Kiriman Pembaca

Kiriman Pembaca

Syair untuk Bunda

Syair untuk Bunda

Sepetik syair kunyanyikan Padamu yang penuh kasih Dengan nada penuh syukur Atas tetesan kasihmu padaku Kau hapus sedihku Beriku tiap mimpi yang indah Dengan doa Kau ajarku berbudi Namun apa daya kuberi bagimu Bahkan, seribu bintang tak sanggup balas cintamu…

pergi dengan sebuah kesedihan

pergi dengan sebuah kesedihan

Ketika malam tiba Ku lihat bintang yang terang di langit Bintang yang terang menyinari Mata dan hatiku Tetapi tidak dengan perasaan Dan fikiranku yang gundah gulana Kulihat daun yang melambai -– lambai Seakan – akan daun itu memanggilku Ku pegang…

Aku dan Kamu

Aku dan Kamu

Kamu adalah pelita hati ku Saat ini pikiran ku sedang tertuju pada mu Terbayang wajahmu di benak ku Elok sekali paras mu Fajar telah berlalu Angin berhembus sangat kencang Namun pikiran ku tetap terpaku pada mu Kamu lah yang selalu…

Cermin Rias Perak

Cermin Rias Perak

Aku diberikan Tuan cermin Cermin rias perak yang mengkilap Warnananya putih sekali.. menyilaukan Pantulannya lurus mulus Namun ada yang aneh Dalam tiap desir ku usap ia Kurasakan ada semacam luka tertutup rapuh Kerapuhan yang terpoles manis Dan disetiap kurasakan sedih…

cintamu hanya seperti embun pagi

cintamu hanya seperti embun pagi

Mekar mawar yg kau tanam di hatiku, tercium wangi semerbak. Lambangkan segalah sayang dan cintamu, namun mengapa hanya sesa’at, cintamu hanya seperti embun pagi yang mudah hilang di serap matahari,, bukankah engkau sudah berjanji akan sehidup semati denganku, kenapa engkau…

penyesalan

penyesalan

kasih apakah aku masih memegang tanganmu dan memelukmu untuk yg terakhir kalinya dan merasakan hangatnya tubuh dan cintamu, walau hanya sedetik saja, sebelum engkau pergi dengan pilihan hatimu. ….kasih mengapa kita di pertemukan lagi, dan mengapa kita jatuh cinta lagi…

jeritan hatiku

jeritan  hatiku

dalam diam aku selalu memandang dalam hening dalam sendiri akau terpaku menatap ruang kosong ruang sepetak aku yang tak perna lelah mengejar suatu impian untuk suatu cita cita namun semua itu hanya impian namun aku tetap bertahan seperti awan melingkari…

Depaan payung

Depaan payung

Kedua tangan erat mendepakan payung meneduhkan kita dari hujan, Engkau membiarkan kekosongan memenuhi tapak tanganku, Lantas aku sedar bahawa kau ada sesuatu untuk memaut, Tapi aku, Hilang tempat untuk berpaut

Rujuk dalam Peluk

Rujuk dalam Peluk

Ada tenteram mengukir dalam, tatkala dua jasad berrengkuh bersuam. Tidak menimbul menenggelam, melainkan memilih untuk bersemayam. Menolak menjelma kelam, tegas bergemerlap lir pualam. Ada nihil terpatri pada diri, hanya mengisi sekiranya kamu kembali. Dan kerinduan menari-nari, lekaslah kasih bawa rindumu…