Bait Terpahit

Hunus saja sajak yang tersarung kelu di lidahmu. Untuk coba congkel apa yang terselip diantara bait terpahit. Setelah lama kau cari dengan matamu yang menyipit. Sisakan walau sedikit. Kelak, juga akan terasa legit.

Hunus saja sajak yang tersarung kelu di lidahmu. Untuk coba congkel apa yang terselip diantara bait terpahit. Setelah lama kau cari dengan matamu yang menyipit. Sisakan walau sedikit. Kelak, juga akan terasa legit.

Masih ingatkah kau pada meja yang kerap kita hadapi itu? Permukaanya sebiru lagu. kaki-kakinya sekukuh kesepakatan tanpa ucap dan ragu. Sementara pada kolongnya, ransel-ransel kita berjejalan menunggu. Ingatkah kau berapa dunia yang tercipta di situ? Berapa kalimat yang tersambung agar…

Oohh, cintaku Nastriii,, Ketika hati ini kau curiii,, Oleh senyummu berserii,, Sulit raga ini menghindarii,, Meskipun jarak seujung jarii,, Hanya terpakuku seorang dirii,, Sulit ku untuk berusaha berlariii,, Mengerang sakit rasakan sendiriii,, Bagaikan menghujam ditusuk duriii,, Yang tumbuh pada batang…

Malam ini padikaku untuk Tuhan Aku ingin bercerita tentang benduan Sambil memikirkan ketidak mungkinan Sesuatu yg seharusnya sudah diperkirakan Mungkinkah ada kanigara untuk kami berdua? Kami memiliki dama dan sudah seharusnya bersama Kami sudah menjalani semua dgn derana Apa untungnya…

Menerabas payoda putih Larik jemari menari keluh Bagai nabastala tak berarti Kau tak mau mengambil arti Seringai kecut aku haturkan Pada buana menyebalkan Anggak dimakan sendiri Bengah, tak tahu diri

Berbicaralah pada langit nan sunyi, Tentang hikayat malam kita meritma bingkai puisi, Dan dengar, tanpa harus kau mengerti.. Berbicaralah pada angin yang menyepi, Bahwa ada arkib simpati tersimpan dihujung laci, Dan ingat, tak ku pinta kau akui.. Berbicaralah pada gelapnya…

Seperti mimpi Saat rintikmu hinggapi pipi, menerpa pori Bawa aku dalam sebuah elegi Cerita tentang aku dan kamu saat menjadi kami Diksiku mungkin hanya fiksi Namun rasa di hati Bergeming, melengking tinggi Katakan aku hanyalah berimaji Bilang padaku semua ini…

Gemintang minggu yang beratap cakrawala Ambuan rindu jelma lara dan sendu Serta sisa tawamu yang masih terdengar Entah aku gila atau mati rasa Berharap dirimu yang dulu selalu ada Dengarlah… Gemuruh hatiku yang suaranya mirip kehancuran Coba kau lihat… Ada…

Hati ini acak-acakan Kala sering menolak ajakan Suka beralasan Agar bisa pelarian Jangan kau merasa aman Karena telah berhasil melawan Bukan tentang urusan belakangan Namun semua ada balasan Aku ingin berkawan Dengan kesamaan keyakinan Selalu berebutan Selalu salip-salipan Dan bergandengan…

Tentang malam… Merangkai aksara kesunyian.. Silir silir merambai daun daun rerantingan Lekap kilap Gema gemintang… Mendesaukan Jenggala arca purnama.. Tentang malam… Tentang seseorang… Tentang yang tersayang…