Kiriman Pembaca

Kiriman Pembaca

cerita luka & sepi

cerita luka & sepi

Goresan luka pedih sekali, Dibancuh air perih terasa, Tak kau bawakan pemanis? Tapi ku takut malah menjadi komplikasi. Seru ku anggap panggilan, Dirimu yang terindah katanya, Cinta yang kau ucap terasa indah pada masanya, ku disini bersedia menompang cinta. Tiba-tiba…

Aku;

Aku;

AKU; Sebuah kata yang memiliki sifat egois Yang juga memiliki sifat penangis Seorang lelaki yang hatinya mudah teriris Aku.. Tak bisa merangkai kata layaknya orang pintar Tak bisa membuat puisi seindah mawar Aku.. Yang hanya bisa tersenyum saat menghadapi perihnya…

Nyata dalam maya

Nyata dalam maya

Nampaknya semesta mendukung Malam mulai meniupkan angin sejuknya Dan bintang mulai berpapasan di jalan angkasa Hawa sejuk menari manja Menarik ku tuk singgah sementara Dalam dunia yang tak nyata, namun ada Tuk menemui nyatamu Dalam mayaku

Sajak Rindu

Sajak Rindu

Saat berhadapan denganmu Aku terhimpit Antara dimensi ruang dan waktu Tak mampu mulut ini terucap Rindu untukmu Rindu akan cerita cerita kita Yang penuh canda tawa lewat sajak ini kulis kata lewat puisi ini sebagai bukti rindu yang tak terbendung…

Sepasang Hati

Sepasang Hati

Sepasang Hati Oleh: Leonardo Masus Turnip Harus kemana hati ini berlabuh Saat yang dituju enggan membuka hati Harus kemana cinta ini kusemaikan Saat yang diharap menutup hati Mungkinkah perasaan akan selalu tertolak? Mungkinkah cinta akan selalu dikandaskan? Jangan hancurkan hati…

Bayangmu

Bayangmu

dikala sepi melandaku entah mengapa bayangmu selalu datang menyapaku padahal aku tahu akan membuka kembali luka itu namun tak bisa ku ingkari jiwaku tak rela melepas segala mimpi benakku bergemuruh mencari asa untuk kembali dan hatiku ingin melukismu lagi semoga…

Terima Kasih Ayah dan Ibu

Terima Kasih Ayah dan Ibu

Ibu Sosok wanita ayu nan perkasa Pengharum langkah menggapai asa Bagai bintang yang bersinar Menghiasi langit indah di malam hari Ibu, Kau kokoh sekuat benteng Kau lembut sehalus sutra Meski kau terluka dan tersiska Selalu tersenyum menabur kasih dan sayang…

sebujur bangkai

sebujur bangkai

Sunyi sepi… Diam tak bernafas Gelap pekat mengancam diri Tubuh terbujur kaku Tubuh terbujur sendiri Hanya sebujur bangkai kita dan amalan kita yang menemani Hinggar bingar dunia sepi Tak ada gemerlap lampu dunia Kini berganti gelap tuk selamanya

suara para dina

suara para dina

Dari kaki bumi aku berseru menyeruakan ratap tangis para dina biar raga sepu bukan berarti meminta apalah daya hamba sahaya melihat gelap tanpa cahaya hanya modal berani kami gigih teruji selayang pandang aku maju menghentak para penindas mencabit-cabit ragu tanpa…

ERA

ERA

Kala dimana manusia, Saling mencela… Tak ada lagi tegur sapa Yang ada hanya petaka Manusia semakin membabibuta Merasa paling sempurna Tak ada lagi jalinan saudara Semua pentingkan dirinya Tak ada pula rasa percaya Tenggang rasa sirna Entah kemana, Perginya… Aku…