Kiriman Pembaca

Kiriman Pembaca

Begitu Indahnya

Begitu Indahnya

Saat hati tersentuh Kesedihan runtuh Nyanyian kini merdu riuh Setiap nada Setiap syairnya Tercipta rasa Cinta Katanya Raga jiwa berbunga-bunga Gaun bermekaran Langkah penuh keriangan Menuju hati sang pujaan Hidupnya wujud keceriaan Cintanya berpijar ketulusan Begitu indah, bukan ? Teduh…

Senja sore ini

Senja sore ini

Kilau cahaya jingga sore ini.. Indah,sangat indah dan menyilaukan.. Aku,,, yang diam di sela angin bungkam.. Membisu….. Menatap hari yang semakin temaram.. Hingga jingga bergeser memeluk malam.. Disini,,, aku hanya bisa menulis beberapa aksara.. Menggumpal dalam kalimat menyapa,, Tentang rindu,…

Kamu

Kamu

Katamu pilu Jiwamu lesu Ramaimu sendu Sedihmu candu Dunia ini bukan punyamu Istana juga bukan rumahmu Inginmu bukan semau-mau mu Dan Puteri bukanlah dirimu Jangkauamu sipit Rasamu terhimpit Selalu merasa paling sakit Dunia tempat kebahagiaan terpelit Jangan selalu merasa paling…

Hari Lahir

Hari Lahir

Selamat menempuh usia baru Yang kini bertambah satu Aku aminkan semogamu Pemilik tanggal di penghujung April Selamat mengenang hari lahir Untukmu gadis berambut air Maaf, terlalu lama ucap Yah… aku sadar bukan siapa-siapa Sekadar simpul dalam ceritamu Sengaja aku ucapnya…

Kiblat cinta

Kiblat cinta

Aku hanyalah sebuah butiran debu. Yang terbawa oleh hembusan angin rindu. Dan dimana kerinduan itu adalah hasil dari penantian. Penantian sebuah cinta yang tulus. Seakan akan cinta itu seperti sebuah arus air. Walupun sesekali pecah oleh bebatuan. Tapi, cinta itu…

Kamu Dan Kenangan

Kamu Dan Kenangan

Kamu adalah hal terindah Meski hanya pernah singgah Yang kini telah menjadi kisah Tersisa kenangan mengiringi langkah Kebersamaan yang pernah ada Bagiku momen manis yang pernah tereka Ketika kita dipertemukan lewat aksa Dan bersatu dalam satu rasa yang sama Mungkin…

Renungan petani

Renungan petani

Embun pagi yang mengantarmu Sinar matahari yang menemanimu Tarian awan yang menghiburmu Disela penat angin kau termenung Renungkan tanaman hijaumu Yang perlahan memulai menguning Kau terawang jauh kelangit Kau utarakan semua hasratmu Hingga disaat senja kau tersenyum lega

Hitam

Hitam

sayang, aku bawakan sebuah tanda cinta” Ia tersenyum dengan rindangnya “Hitam?, apakah ini tanda duka? Untukku? Ataukah dukamu? Atau kita?” “Tidak, bukan semuanya” “Lalu?” “Ini adalah lambang ikatan kita, hitam.” Jika matahari telah menghilang Aku siap mengetuk pintu malam sayang…

Ini puisi

Ini puisi

“Slalu ku dengar ringkih cahaya Dalam jiwa Yang perlahan merenggut kesadaran raga ini”, “Raga yang menua Tanpa alasan”, “Yang jelas aku sudah melihat Pasang surut dunia ini” Ku letih, “biarkan ku tenang sejenak Mengeluarkan nafas akhir ini”.