Kiriman Pembaca

Kiriman Pembaca

Tangisan Malam

Tangisan Malam

Dibawah salah satu sisi langit, Aku terduduk diantara cahaya bulan dan lampu taman. Berharap suatu keajaiban kan datang padaku, Membawa serta alunan sendu dari hati. Diantara pohon yang menari Dan diantara para jangkrik penyanyi. Aku masih menatap langit dengan penuh…

Lebih dari Hancur

Lebih dari Hancur

Seperti pisau tajam yang menusuk hati tak pernah bisa dilepas lagi menusuk sampai nurani tempat aku bingkai indah namamu Aku hanyalah serpihan puing yang rapuh ingin aku ceritakan kehancuran ini tapi, kau seolah tak peduli tak mampu kusatukan lagi kepingan…

Rasa

Rasa

Lantas, biarlah sementara begini Tepatnya kan kubiarkan seperti ini Mungkin hati ini perlu waktu tuk menghapusnya Karena sesungguhnya aku telah terbiasa oleh keberadaanmu Dan sesungguhnya ada rindu yang mulai tertata Karenamupun, kini aku benar-benar tak sanggup mengelabui rasa …

Isyarat Yang Entah

Isyarat Yang Entah

Pada undakan anak tangga kelima Seorang perindu duduk menatap awan senja Ia tabah menunggu isyarat yang entah Tapi kau salah puan… Jika menganggapku setabah itu Justru karena tak sanggup menahan rindu Aku senantiasa mencurahkannya pada aksaraku Dan sementara di keningnya…

Dalam diam

Dalam diam

Bagaimana mungkin kuselesaikan lukisan indah tentang kemilau Senja, Jika hingga kini kau masih mewarnai hati ini dengan sejuta tanya… Hujan yang hendak berjatuhan saja selalu memberi kabar lewat mendungnya, bagaimana denganmu ‘rindu’, Adakah kabar untukku dari isyaratnya…

Belenggu

Belenggu

Pernahkah kau tau, Rasa yang berpendar hangat dalam hatiku saat merindukanmu… Saat aku hanya dapat mengecup bayangmu, Yang hanya bisa kucumbui dengan rakus, Namun kerinduan tetap tak terhapus…

Jejak dalam udara

Jejak dalam udara

Dan lihatlah, Sekumpulan burung-burung melintas dikotaku Dilangit senja yang perlahan pekat ditelan malam Beriringan mereka terbang pergi dan berlalu Sedang aku, Menyesap rindu dijejak-jejak yang semakin hilang

Sesalkah ini

Sesalkah ini

Pengecut !!! Ujarku dalam hati… Karena aku berani mencintai tapi begitu takut akan kehilangan… Dan sekarang musim makin susah untuk dieja, Seperti rindu yang terkadang jenuh lantas diam” meraja… Dan sepasang sepatu usang itu aku, Yang tak lelah selalu mengejar…