Puisi Asep Purnama Berjudul AKU INGIN LULUS SEBELUM RAMBUT ITU MEMUTIH SELURUHNYA 13 Bait 13 Baris
AKU INGIN LULUS SEBELUM RAMBUT ITU MEMUTIH SELURUHNYA
Aku masih ingat saat meninggalkan rumah. Ada senyum yang kalian tunjukkan, doa yang kalian titipkan, dan harapan yang kalian simpan diam-diam. Kalian melepas anakmu pergi jauh, bukan untuk menjauh dari keluarga, melainkan untuk mengejar masa depan yang lebih baik.
Kini rambut itu semakin dipenuhi uban. Tubuh yang dahulu kuat menghadapi panas dan hujan mulai sering sakit. Namun, kalian tetap bekerja. Di kampung, sawah menjadi tempat menggantungkan harapan. Hasil panen yang tak selalu menjanjikan tetap kalian perjuangkan, sebab ada biaya kuliah dan kebutuhan hidup anak yang harus dipenuhi di perantauan.
Anak itu adalah aku.
Di kota ini, kehidupan tidak selalu mudah. Tugas menumpuk, kebutuhan terus datang, sementara uang sering kali tak cukup untuk semuanya. Ada malam ketika teman-teman telah terlelap, tetapi aku masih terjaga di depan layar, mengerjakan tugas mereka demi mendapatkan sedikit uang tambahan. Bukan karena aku tak punya pekerjaan sendiri, tetapi karena aku ingin bertahan tanpa terus meminta kepada rumah.
Di sela malam yang panjang, pikiranku sering pulang. Aku membayangkan Ayah yang masih harus bekerja, Ibu yang mungkin sedang menahan sakit. Lalu muncul pertanyaan yang selalu sama: apakah mereka baik-baik saja? Apakah tubuh mereka masih sanggup menanggung semua ini?
Pernah aku ingin berhenti kuliah. Bukan karena kehilangan cita-cita, tetapi karena tak tega melihat kalian semakin menua sementara perjuangan belum juga selesai. Rasanya berat mengetahui bahwa di saat tubuh kalian membutuhkan istirahat, aku masih harus meminta biaya untuk melanjutkan pendidikan.
Namun, aku lebih takut mengecewakan kalian. Takut pulang tanpa membawa hasil dari perjalanan panjang yang telah kita mulai bersama. Kalian mungkin tidak pernah meminta anakmu menjadi orang hebat, tetapi aku tahu ada harapan besar di balik setiap uang yang kalian sisihkan dari hasil tani.
Maka, izinkan aku bertahan sedikit lebih lama. Biarkan malam-malam ini kulewati dengan lelah. Biarkan sesekali air mata jatuh tanpa diketahui siapa pun. Aku hanya ingin menyelesaikan pendidikan ini dan membuktikan bahwa pengorbanan kalian tidak sia-sia.
Ayah, Ibu, suatu hari aku ingin pulang membawa ijazah dan prestasi. Aku ingin memeluk kalian erat-erat, lalu mengatakan bahwa anak yang dahulu kalian sekolahkan dengan segala keterbatasan akhirnya berhasil sampai di garis yang diimpikan.
Aku ingin melihat Ayah tak lagi memaksakan tubuhnya bekerja di bawah terik matahari. Aku ingin Ibu bisa beristirahat tanpa memikirkan biaya hidup anaknya. Biarkan aku yang berjuang sekarang. Sudah terlalu lama kalian menghabiskan tenaga demi masa depanku.
Aku hanya berharap waktu tidak berjalan lebih cepat daripada perjuanganku. Sebab setiap kali melihat rambut kalian semakin memutih, ada keinginan yang semakin kuat dalam dada: aku ingin lulus sebelum seluruh rambut itu kehilangan warna hitamnya.
Kelak, ketika ijazah itu berada di tangan, aku ingin kalian tahu bahwa keberhasilan tersebut bukan milikku seorang. Ada peluh di sawah, ada hasil panen yang disisihkan, ada tubuh yang menahan sakit, dan ada doa yang tak pernah berhenti mengiringi langkahku.
Aku ingin lulus, Ayah, Ibu. Bukan agar dipandang hebat oleh dunia, tetapi agar kalian bisa tersenyum dan berkata bahwa semua perjuangan kita akhirnya tidak sia-sia.







