Puisi Alvianus Tay Berjudul wajah pucat 6 Bait 32 Baris

A

wajah pucat

© Alvianus Tay

Malam dingin, purnama yang ceria,
namun ia berdiri sedih di bawah temaram lampu kamar.
Seorang lelaki bermuka muram,
membawa getir di gumpalan tangannya.
Matanya merah menyerupai bola api,
yang sering ditendang anak-anak nakal di tengah malam.

Ia sendiri, terpaku paling pedih di sudut gelisah,
ditemani malam yang kembali hitam,
dibalut duka yang muram dan menyeram.
Detik terus berjalan maju,
dinanti mundur dengan gelisah yang menyeruput.
Ia tertidur dalam akal yang terjaga.

Kini pagi beranjak malu-malu,
sinar mentari menyelinap di balik tirai.
Matanya terbuka sedari malam,
bintik merah menari menemani kelopaknya.
Ia beranjak menaiki rindu,
rindu pulang ke wajah pucat yang sedang didekap derita.

"Tak kunjung bangun sedari kemarin," kata si bungsu di balik takut.
Ruang Mawar: wangi kematian yang digantung di cakrawala,
siap menerkam wajah pucat yang berjuang menerjang badai,
pada gelombang laut hidup yang fana.

Ia menarik diri, menangis kecil di pinggir pintu,
memohon tambahan waktu pada Sang Empunya.
Hanya untuk menuang rindu,
rindu memeluk ia yang mungkin akan tiada.
"Besok atau lusa, asalkan sekarang diperpanjang."

Wajah pucat itu kini beraroma dupa,
semerbak di dada juga di kepala.
Ia tetap di sini, memohon pada Yang Punya hidup dan mati:
"Wajah pucat, kurindu selalu."
Ia menutup air mata.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *