Puisi I MADE ARISHUDANA Berjudul Lolongan Petaka 3 Bait 12 Baris
I
Lolongan Petaka
© I MADE ARISHUDANA
Dua belas malam berdetak risau
Suara jangkrik dan lolongan anjing menghiasi malam
Kepala tanpa badan bersuka ria
Diujung jalan setapak langkah menggebu
Malam Jumat kliwon mengeluarkan auranya
Membekukan darah si penyintas malam
Menjentikkan jari menunjuk sang mangsa
Penanda engkau si penguasa malam
Muka beringas tubuh berpeluh darah
Siap melumat siapapun tanpa bertanya
Memelas ketakutan semakin menggila
Larilah…larilah sekencang-kencangnya
Puisi ‘Lolongan Petaka’ menyuguhkan suasana malam yang mencekam dengan penggunaan imaji yang kuat. Penulis berhasil menghadirkan visualisasi yang tajam melalui deskripsi suara jangkrik dan lolongan anjing yang menjadi latar belakang dari sebuah malam penuh ketegangan. Kiasan ‘kepala tanpa badan’ dan ‘muka beringas’ menciptakan nuansa horor yang mendalam dan membuat pembaca merasakan degup cepat di dada. Momen ‘malam Jumat kliwon’ menambah elemen mistis yang kental, seolah membawa pembaca masuk ke dalam dunia yang tak kasat mata. Namun, ide tentang kekuatan malam dan kengerian yang dibawanya terasa cukup familiar dalam genre puisi horor, yang sedikit mengurangi keaslian ide. Meski demikian, pilihan diksi dan ritme yang digunakan cukup efektif dalam membangun intensitas emosi. Elemen kejutan hadir ketika ‘menjentikkan jari menunjuk sang mangsa’, menandai perubahan dari sekadar pengamat menjadi pelaku. Puisi ini, dengan segala kengerian yang ditawarkan, mengundang pembaca untuk merasakan kegelapan yang digambarkan.