10 Puisi Perpisahan Untuk Kakak Kelas 12 Yang Epic Bikin Baper

Puisi Perpisahan Untuk Kakak Kelas 12

Kami menulis artikel ini sebagai adik kelas untuk kakak kelas 12, sebagai bentuk apresiasi atas bimbingan, kebersamaan, dan contoh baik selama di sekolah. Di sini kami kumpulkan pilihan puisi perpisahan yang bisa dibacakan atau ditulis, sehingga mudah dipakai sesuai kebutuhan.

Puisi puisi ini cocok untuk penutupan acara perpisahan, sambutan singkat, atau sesi pesan dan kesan, juga bisa dimasukkan ke kartu ucapan dan unggahan media sosial. Setiap puisi dibuat dengan tema terima kasih, doa, dan harapan, agar kakak kelas membawa pulang kenangan yang rapi dan pesan yang jelas.

Setelah Bel Terakhir

Bel terakhir itu seperti pintu yang menutup pelan.
Kakak berdiri di ambang, ransel di punggung, senyum menahan sesuatu.
Kami menatap punggung kalian yang mulai menjauh, tapi langkah kami tertinggal.
Di lorong yang biasanya ramai, suara sepatu tiba tiba terdengar jelas.

Ada hal kecil yang kini terasa berat.
Bangku yang besok tidak lagi kalian tempati.
Kalimat sapa yang tidak lagi muncul begitu saja.
Nama kalian yang masih akrab, tapi sebentar lagi jadi cerita.

Kalau nanti kakak lupa wajah kami satu per satu, tidak apa.
Yang kami minta cuma satu.
Jangan lupa bahwa pernah ada hari hari sederhana yang kalian menangkan di sini.
Dan jika dunia di luar sana terasa dingin, ingat, kalian pernah menghangatkan sekolah ini.

Di Meja Panitia

Kami melihat kakak bukan hanya sebagai senior.
Kami melihat tangan yang sibuk membagi tugas, menahan lelah, merapikan chaos.
Di meja panitia, ada kertas kusut, pulpen hilang, dan tawa yang dipaksa tetap hidup.
Kakak mengajari kami satu pelajaran yang tidak ada di buku.

Bekerja itu sering tidak dipuji.
Berbuat baik itu kadang tidak dilihat.
Menjadi kuat itu bukan soal suara keras, tapi soal tetap hadir saat orang lain pulang duluan.
Kami mencatatnya diam diam, seperti rahasia yang ingin kami bawa sampai dewasa.

Hari ini giliran kakak yang pamit.
Dan kami baru sadar, bimbingan paling dalam tidak selalu berupa nasihat panjang.
Kadang cuma satu kalimat pendek, ayo kamu bisa, lalu kakak berdiri di belakang, memastikan kami tidak jatuh.

Kalau nanti kakak ragu di jalan baru.
Ingat meja panitia itu, ingat kalian pernah memimpin tanpa membuat orang kecil.
Kami mungkin tidak bisa membalas banyak, tapi kami akan meneruskan cara baik yang kakak tinggalkan.

Kota Kecil Bernama Sekolah

Sekolah ini kota kecil.
Kita tinggal di dalamnya bertahun tahun, lalu pura pura tidak punya alamat.

Kakak kelas 12, kalian seperti lampu di gang sempit.
Tidak selalu terang, tapi cukup untuk membuat kami berani pulang.

Ada banyak hal yang tidak sempat kita bicarakan.
Tentang takut yang disembunyikan di balik bercanda.
Tentang nilai yang naik turun seperti cuaca.
Tentang mimpi yang kita lipat kecil kecil, supaya muat di saku seragam.

Hari ini kalian pindah rumah.
Kami yang tinggal hanya bisa mengantar sampai gerbang, dan menahan diri untuk tidak memanggil ulang.

Kalau nanti kalian tersesat di kota yang baru.
Ingat pintu kelas yang pernah kalian dorong dengan telapak tangan sendiri.
Ingat suara bel yang memaksa kita bergerak, meski hati ingin berhenti.

Pergilah.
Bawa nama kalian seperti kunci cadangan.
Kalau suatu hari lelah, kalian bisa kembali, setidaknya dalam ingatan kami, yang masih menyimpan kalian utuh.

Saat Kalian Pergi

Kami tidak akan membuatnya ramai.
Kami tahu kalian sudah cukup lelah.
Kami hanya berdiri sebentar.
Di tempat kalian biasa lewat.

Angin di halaman membawa suara biasa.
Bendera, bayangan pohon, dan langkah yang tidak sama lagi.
Kami menahan kata kata.
Supaya perpisahan tidak menjadi pidato.

Kalau nanti kalian sampai di hari yang asing.
Semoga kalian tetap bisa tersenyum.
Dan jika rindu datang pelan pelan.
Anggap saja itu cara sekolah ini menjaga kalian.

Kami tidak meminta apa apa.
Selain kabar baik.
Sesekali.

Pidato

Dengarkan.
Hari ini bukan sekadar acara.
Ini adalah detik ketika kalian melepaskan seragam, dan dunia mulai menagih nama kalian.

Kami adik kelas, berdiri di bawah panggung, melihat mata kalian.
Di sana ada keberanian yang dipaksa matang, ada takut yang disembunyikan rapi.
Jangan malu pada takut.
Takut adalah tanda kalian masih hidup, masih peduli, masih ingin benar benar sampai.

Jangan bawa sekolah ini sebagai beban.
Bawa ia sebagai tenaga.
Kalian pernah jatuh pada ulangan, bangun pada tugas, bertahan pada omongan orang, dan tetap datang ke kelas.
Itu bukan hal kecil.
Itu latihan menjadi manusia.

Keluar dari gerbang ini, kalian akan bertemu banyak pintu.
Ada yang menolak, ada yang pura pura tidak melihat, ada yang meminta kalian merendahkan diri.
Jangan.
Jaga martabat kalian, jangan menjilat, jangan menipu, jangan menjadikan orang lain tangga.
Kalian boleh lapar pujian, tapi jangan sampai miskin hati.

Kakak kelas 12.
Hari ini kami tidak hanya melepas kalian.
Kami mengirim kalian seperti surat penting.
Dengan doa yang tidak memakai amplop.

Berangkatlah.
Buktikan kalian bukan sekadar lulusan.
Kalian adalah kerja keras yang pernah kami saksikan, dan keberanian yang ingin kami tiru.

Aku Lepas

Aku lihat kalian berdiri, seperti api yang baru saja belajar angin.
Seragam itu tinggal kain, tapi bekasnya masih menempel di bahu.
Kalian hendak pergi, dan sekolah ini mendadak terasa sempit.

Jangan menoleh terlalu lama.
Kenangan bisa jadi paku, menahan kaki.
Kalian bukan untuk dipajang di foto angkatan, lalu selesai.
Kalian mesti menerjang hari, menghantam ragu, mematahkan malas.

Aku, adik kelas, tidak punya banyak.
Cuma suara yang bergetar, dan bangga yang tak pandai berpakaian.
Kalau nanti kota baru menertawakan kalian, tertawalah balik.
Kalau ia menginjak kalian, berdirilah, keras, tanpa minta belas.

Pergilah, kakak kelas dua belas.
Bawa luka sebagai peluit, bawa takut sebagai cambuk.
Dan kalau rindu datang seperti hujan yang tidak mau reda.
Ingat, kita pernah sama sama belajar bertahan, di tempat ini.

Nasihat

Wahai kakak kelas 12.
Perpisahan ini bukan pintu yang menutup, melainkan jendela yang dibuka oleh angin yang sama sekali baru.

Kalian telah belajar di ruang yang temboknya menyimpan gema tawa dan tangis.
Namun hidup tidak tinggal di tembok.
Hidup berjalan, ia memanggil kalian keluar dari halaman yang kalian kenal.

Jangan kira dunia akan selalu lembut.
Ia kadang menjadi batu, agar telapak kaki kalian menemukan kuatnya sendiri.
Dan jangan pula kira kalian harus selalu menang.
Sebab kekalahan sering mengajarkan kalian nama lain dari keberanian.

Bawalah dari sekolah ini tiga perkara.
Kejujuran yang tidak bisa dibeli, kerja keras yang tidak minta tepuk tangan, dan hati yang tetap hangat walau jalan menjadi jauh.
Jika kalian memegang itu, kalian tidak akan benar benar menjadi asing di mana pun.

Dan kami, adik kelas, tidak menahan kalian.
Kami hanya menitipkan doa, seperti lampu kecil di saku kalian.
Agar ketika malam paling panjang datang, kalian ingat, kalian pernah dicintai oleh tempat yang sederhana ini.

Kakak Kelas 12

Kakak kelas 12.
Selamat, kalian lulus, tapi jangan buru buru merasa selesai.
Hidup itu tidak seperti ulangan, sekali benar lalu aman.

Nanti kalian ketemu dunia yang suka membandingkan.
Gaji siapa, kampus mana, pasangan siapa, pencapaian apa.
Kalau kalian ikut lomba itu terus, kalian capek sendiri, lalu lupa untuk bersyukur.

Yang penting bukan cepat.
Yang penting arah.
Dan yang lebih penting lagi, hati kalian masih punya ruang untuk orang lain.

Kalau rezeki kalian nanti besar.
Jangan kecilkan orang.
Kalau ilmu kalian nanti tinggi.
Jangan rendahkan yang lain.
Kalau kalian nanti jadi orang penting.
Ingat, dulu kalian juga pernah cemas nunggu bel, pernah takut disuruh maju, pernah malu salah jawab.

Kami adik kelas cuma punya satu permintaan.
Kalian tetap jadi manusia, bukan papan pengumuman prestasi.
Kalau rindu sekolah ini, pulanglah sesekali, meski cuma lewat kabar.
Biar kami tahu, kakak kakak yang dulu kami lihat di koridor, benar benar baik baik saja.

Jangan Takut

Kakak kelas 12.
Perpisahan ini bukan kehilangan.
Ia cuma jarak yang diberi nama.

Kalian pergi bukan untuk jauh.
Kalian pergi untuk menemukan diri kalian, di cermin yang berbeda.
Di luar gerbang itu, ada angin lain yang akan mengajari kalian berjalan.
Ada sunyi yang akan mengajari kalian mendengar.

Kalau rindu datang.
Jangan ditolak.
Rindu adalah cara hati mengingat, bahwa kalian pernah tumbuh di tanah yang baik.
Dan tanah yang baik tidak menuntut kalian tinggal.
Ia justru memberkati langkah kalian.

Bila dunia membuat kalian lelah.
Taruh kepala kalian sejenak di dada doa.
Biarkan sabar menjadi nafas.
Biarkan syukur menjadi arah.

Kami, adik kelas, melepas kalian seperti melepas burung.
Kami tidak kehilangan langit.
Kami hanya belajar memandangnya lebih luas.

Doa Nakal yang Baik

Kakak kelas 12, hari ini kalian pamit.
Kami adik kelas berdiri rapi, padahal dalam hati pengin ikut kabur.
Soalnya kalau kalian pergi, siapa yang biasa jadi tameng saat guru galak lewat.

Kami doakan kalian sukses, tentu.
Tapi izinkan kami jujur, kami juga doakan kalian jangan sombong.
Kalau nanti dapat kampus keren.
Jangan lupa pernah ngantre di kantin, dan menangis karena tugas menumpuk.

Kalau nanti kalian kerja, dapat bos yang serius sekali.
Ingat, hidup tidak cuma rapat dan target.
Sesekali ketawa, sesekali salah, sesekali bilang, aku capek, lalu pulang.

Dan kalau nanti kalian jatuh cinta.
Semoga bukan pada orang yang hobi ghosting.
Kalau pun iya, semoga kalian cepat sadar, lalu kembali jadi manusia waras.

Kami adik kelas tidak punya hadiah mahal.
Cuma puisi ini, dan doa yang tidak bisa dibayar.
Pergilah, kakak kelas 12.
Kalau sukses, ingat kami.
Kalau belum, ya tetap ingat juga, jangan pilih pilih.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *